Blog

  • Akibat Uang Haram Dari Istriku

    Episode 1

    Tahun 2003 Bulan Maret Tanggal 13:   

     

    “Retta! Nak, jemputanmu sudah siap!” Ria menoleh sejenak ke arah kamar putri sulungnya sebelum melanjutkan aktivitas menyetrika.

     

    Jarum jam panjang sudah menunjukkan lebih dari angka 1 di dinding di atas wajah Ria yang sedang fokus menyetrika, tetapi ia tetap waspada karena khawatir Retta tidak segera memenuhi perintahnya.

     

    Tok-tok-tok! “Nak, kamu masih lama?”

     

    “Nggak kok, Buk! Retta baru saja ke toilet!” Retta segera mengenakan hijab putih polosnya di depan cermin dengan terburu-buru.

     

    Setelah mendapatkan kepastian, Ria kembali ke depan rumah. Ia melambaikan tangan sambil mengisyaratkan kepada Mang Diman untuk bersabar menunggu, dan Mang Diman membalas dengan acungan jempol, yang merupakan kenek minibus antar jemput berbayar tersebut.

     

    Gadis berwajah oval bernama Retta Hayana melesat keluar dari kamarnya, melintasi ruang makan dan ruang tamu, lalu mencium punggung tangan ibunya sambil mengucapkan salam.

     

    “Wa’alaikum salam. Hati-hati, Nak!”

     

    “Iya Buk, pergi dulu!”

     

    Di dalam bus itu sudah tidak ada tempat lagi untuk Retta. Ini bukan pertama kalinya. Terkadang hatinya merasa kesal, apakah status ‘miskin’ membuatnya selalu dipandang sebelah mata? Ini bukan hanya asumsi dalam pikirannya. Bukankah seharusnya dia mendapatkan tempat duduk karena bus ini bukan bus gratisan.

     

     

    “Di antara rindu sujud, dan nafsu yang menggoda. Ada jeda sunyi untuk merenung.

     

    Mana yang lebih abadi?

     

    “Nafsu, Pak guru!”

     

    Hasbi tersenyum tipis. Siwak di tangannya kembali berayun seiring irama ucapannya sambil melangkah kecil ke kiri dan ke kanan, “Setiap jiwa memiliki keinginan untuk memiliki apapun yang menjadi tujuan awal pikirannya, yang dimulai dari penglihatan, lalu berlanjut ke pikiran. Biasanya, ego berperan dalam hal-hal yang menyenangkan menurut isi pikiran, dan ini berujung pada sebuah nafsu.” Ia mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri, “pondasi iman yang lemah akan merusak kondisi pikiran yang berujung pada tindakan negatif, dengan catatan nafsu tersebut adalah nafsu buruk.”

     

    Beberapa siswa laki-laki tersenyum genit.

     

    “Pada dasarnya, kata nafsu cenderung mengarah pada hal negatif karena bertindak berlebihan, tidak semestinya, tidak seharusnya, atau keluar dari ketentuan. Contoh nafsu negatif adalah nafsu syahwat yang mencakup rasa cinta, nafsu makan, nafsu ingin memiliki apa yang menjadi milik orang lain.”

     

    “Yah, Pak! Saya bingung. Bukankah cinta memiliki sisi negatif dan positif?” canda Bram di bangku tengah.

     

    “Ya, jangan menggunakan nafsu,” jawab Hasbi sambil tersenyum.

     

    “Yah, kalau tidak menggunakan nafsu, bagaimana bisa cinta, Pak?”

     

    Ha-ha-ha! Tawa teman-temannya pun meledak.

     

    “Maksud Bapak, eh dengarkan dulu. Jangan berlebihan,” ucap Hasbi. “Astaghfirullah haladzim….” batinnya. Inilah tantangannya dalam mengurus remaja seperti mereka.

     

    Dan Ayah adalah tempat bersandar. Saat dunia terasa goyah, pelukannya memberikan kehangatan saat jiwa resah. Jejaknya panjang, mengukir jalan untuk dilalui. Pilar yang tak tergantikan, ada dalam setiap mimpi.

     

    Retta, putrinya, telah sampai di gerbang luar sekolah. Tubuh kecilnya hampir terjepit oleh pagar besi yang menutup otomatis dengan cepat. Suara sepatu ketsnya terdengar nyaring, disertai tatapan beberapa siswa di dalam kelas yang dilaluinya.

     

    Diam-diam, perut Hasbi meminta untuk diisi, namun ia menahan diri. Harapan untuk mendapatkan nasi kotak jatah dari sekolah siang nanti kadang membara, kadang meredup, tergantung pada tuntutan pikirannya.

     

    Ia berbalik dan memberikan beberapa catatan untuk dicatat, kemudian memberikan soal yang sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya.

     

    Ia meminta agar suara gaduh mereda berkali-kali, tetapi berkali-kali pula permintaannya diabaikan. Dalam goresan penanya, ia kemudian menulis catatan untuk Retta, Hanum, dan Kiswah. Sebuah catatan yang seolah menjadi wasiat…

     

    “Harta yang kau miliki tak ada, Hasbiyallah…” jin dari marga Wathin membisikannya.

     

    Ia berkedip, hatinya merintih, dan tangannya mulai bergerak, “Maafkan ayah jika senyummu tak secerah matahari, jika tawamu tak lepas bergema. Ayah hanya bisa memberikan pelukan, berdoa tanpa henti, semoga hatimu selalu lapang, meski dunia tak selalu berpihak.”

     

    Bisikan keputusasaan kedua pun menyelimuti jiwanya, “Kasihan anakmu, bagaimana nasib mereka setelah kepergianmu nanti? Bukankah kematian ada di tangan Tuhan? Dia ada… Namun cobaannya takkan pernah hilang…”

     

    “Ayah berdoa, semoga kalian selalu cukup hingga nafas kalian diujung lidah, begitu juga ibu.”

     

    Melihat tulisan itu, Wathin terkekeh, suaranya serak seperti nenek-nenek. Giginya yang berkarang disertai liur saat berdecak, wajahnya rusak.

     

    Hasbi tak mampu melanjutkan, pena itu terlepas dengan sendirinya. Dia beriman, namun setengah hati; dia percaya pada keberadaan Tuhannya, tetapi dunia terasa lebih besar dibanding kebesaran-Nya. Inilah rasa takut yang selalu dibisikkan oleh Wathin.

     

    Pria berusia 45 tahun itu mengusap wajahnya dua kali sambil mengerutkan dahi. Sejenak, wajah tampannya yang putih memerah, terlihat kelelahan.

     

    Ketika hendak melangkah ke kelas 3H, Ibu Amel menemuinya. “Permisi, Pak Hasbi.”

     

    Hasbi terkejut, langsung saja wajahnya mengulum senyuman setelah menoleh ke arah pintu, “Bu Amel!”

     

    Ketukan heels Amelia menggema di seluruh ruangan. Langkahnya yang anggun menarik perhatian beberapa siswa. Ia pun berhenti tepat di samping Pak Hasbi, “Ada masalah?” tanyanya dengan suara pelan.

     

    “Tidak, semuanya baik-baik saja. Anda tahu sendiri bagaimana guyonan mereka?”

     

    Amelia mengangkat alisnya, “Bukan masalah lain, kan?”

     

    “Apa maksud Anda?”

     

    Kemudian Amelia mendekatkan perutnya ke tepi meja, “Saya punya kenalan, dia orang terdekat saya. Jika Bapak mau, saya bisa memperkenalkan Anda padanya. Harganya sedikit…” di akhir kalimat, suaranya semakin pelan.

     

    “Wanita ini lebih cerdas dariku…” ucap Within bergidik ngeri.

     

    Bersambung…